Hendra Arrazi : Sang Serigala Yang Melakolis

unspokenjournal.com – Jika kita mendengar kata “angsa” dan “serigala”, maka akan terlintas di benak kita adalah dua hewan yang terdiri dari dua jenis berbeda, yakni unggas dan  mamalia. Namun, jika kita mengetik nama “Angsa dan Serigala” di mesin pencarian Google, maka akan muncul hasil yang di luar dugaan.  Justru nama tersebut lebih santer terdengar sebagai nama dari sebuah grup musik terkemuka asal kota kembang, Bandung.

Siapa sosok di balik “Angsa dan Serigala” itu? Ialah Hendra Arrazi atau kerap disapa Aji, sang vocalist yang juga bertindak sebagai nahkoda grup musik beranggotakan delapan personil tersebut. Pada awal kemunculannya sekitar tahun 2008, ia menyadari bahwa nama berbahasa Indonesia sangat asing untuk digunakan sebagai sebuah nama band, apalagi dengan subjek nama hewan. Pada era itu, kosa kata berbahasa Inggris lebih digemari sebagai sebuah nama band.

Aji bukanlah berasal dari tanah Pasundan. Ia memiliki darah Sumatera tulen. Pria kelahiran Sibolga, 5 Oktober 1982 ini mulai jatuh cinta kepada kota kembang ketika semasa remaja ia seringkali berkunjung kesana. Ketika lulus dari bangku sekolah menengah atas, ia dihadapkan dengan pilihan yang cukup berat. Sang ayah mengajukan dua opsi  kepadanya, yaitu tetap tinggal di Kota Medan dan melanjutkan studinya di bidang kedokteran atau merantau ke kota yang ia cintai, Bandung. Bukan tanpa sebab mengapa kedua opsi tersebut dapat tersaji. Keluarganya memang memiliki latar belakang yang lekat dengan dunia medis. Kedua orang tua Aji berprofesi sebagai apoteker dan sang adik bercita-cita untuk menjadi seorang dokter. Namun, kecintaannya kepada musik, membuat ia menjatuhkan pilihan untuk merantau ke pulau seberang. “Gue datang ke Bandung cuma dibekali uang dan berangkat pakai kapal laut. Waktu itu gue dikasih handphone Motorola yang super besar buat ngabarin kalau udah sampai Bandung”, ujarnya. Bandung memang kota yang terkenal dengan pemuda-pemudinya yang kreatif. Meskipun demikian, orang tua Aji memberikan prasyarat untuk dirinya diperbolehkan merantau kesana. Ia diwajibkan untuk melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) atau Universitas Padjajaran (Unpad). Tergerak untuk menerima tantangan tersebut, ia pun bergabung dengan salah satu bimbingan belajar terkemuka di Bandung. Namun, ia terlebih dahulu telah mengambil keputusan untuk memilih Universitas Islam Bandung (Unisba) sebagai backup plan.

Baca juga : “Ina : Rumah Singgah, Rumah Harapan”

Tempat tinggal pertama Aji di Bandung adalah mess Pertamina di kawasan Sawung Galing. Mess ini ia tempati bersama seorang kerabat yang notabene adalah anak dari seorang pegawai Pertamina. Kedekatan jarak antara mess tersebut dengan Unisba, membuat Aji lebih banyak bergaul di sekitar kampus perguruan tinggi Islami tersebut. Setelah mengalami proses yang panjang, akhirnya Aji betul-betul memilih untuk melanjutkan studinya disana. Bekerja paruh waktu sebagai seorang shopkepper pun dialaminya. Hingga tahun 2004, Aji bergabung dengan “Monic” yang bertempat di bilangan Setiabudi. Selepas dari sana, Aji terus menggeluti karir di bidang fashion antara lain dengan menjadi bagian dari “Magna Wears” (2004-2006) dan “Rockmen” (2006-2007). Selain menggeluti bidang fashion dan bermusik, Aji juga merupakan seorang konseptor dengan titel sebagai seorang brand consultant hingga tahun 2014. Sampai akhirnya pada tahun yang sama,  kreativitasnya tersalurkan dengan mendirikan sebuah cafe bernama “Co & Co Space” yang masih eksis hingga kini.

Dibalik ketenarannya sebagai seorang pentolan band indie ternama, banyak yang tidak mengetahui bahwa Aji merupakan sosok yang melankolis. Ia memiliki makna yang mendalam tentang keluarga. “Family is priceless”, imbuhnya. Selama 17 tahun merantau di Kota Bandung, selama itu pula ia tidak pernah sanggup untuk menonton film ataupun tayangan televisi yang berkenaan dengan orang tua. Alasannya cukup jelas. Merantau pastinya menimbulkan gap yang signifikan antara Aji dan orang-orang tersayang di kampung halaman. Tak dapat dipungkiri, hidup seorang diri di kota orang selama hampir dua dekade, menimbulkan perasaan rindu yang cukup mendalam bagi siapapun yang mengalaminya. Bahkan, untuk Aji pribadi, ketika orang tuanya berkunjung ke Bandung, yang muncul justru kombinasi antara awkward moment dan priceless moment.

Kini, sang serigala telah memiliki keluarga kecilnya sendiri. Ia berusaha mewujudkan komitmen bersama sang istri sebagai partner yang kompak untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Sang serigala kini juga aktif sebagai supervisor di sebuah fashion corporate ternama di Bandung, selain tetap menjalani panggilan jiwanya sebagai seorang musisi. Meskipun demikian, keluarga tetap memiliki arti yang sangat penting bagi dirinya. Jikalau apa yang ia miliki saat ini adalah karena pretasinya di bidang fashion dan musik, Aji pribadi justru sangat setuju dengan pepatah, “harta yang paling berharga adalah keluarga”. Dan hal itulah yang selalu tertanam di benak sang serigala.

 

  • Penulis     : Maulana Muhamad
  • Redaktur  : Arri Rama Putra
  • Foto          :  instagram.com/arajiaraji


Share this page with :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *