Rahman P. Salam : Keberanian Sang Putra Sejati

unspokenjournal.com  Tahun 2014 menjadi salah satu tahun terbaik bagi Rahman Purnama Salam atau akrab disapa Rahman. Ia menyelesaikan studinya di jurusan akuntansi Universitas Kristen Maranatha Bandung dengan tepat waktu. Tak lama setelah itu, ia diterima di salah satu perusahaan ritel terkemuka di Indonesia sebagai seorang akuntan. Hal ini menjadi suatu permulaan yang baik bagi Rahman untuk terjun di bidang yang sesuai dengan bidang ilmu yang digelutinya semasa kuliah. Berbagai tantangan telah dilalui oleh Rahman. Dari mulai menjadi bulan-bulanan atasan, hingga pulang larut malam. Namun sebagai manusia biasa, ia tetaplah punya batasan. Pulang larut malam hampir setiap hari menjadi titik dimana ia sadar bahwa ia tidak bisa lagi melanjutkan karirnya disana. Rahman merasa bahwa ada sekat antara kerja keras yang ia lakukan, dengan hak yang ia dapatkan sebagai timbal balik. Ketimpangan antara keduanya yang membuat Rahman harus mengakhiri karir yang telah dijalaninya selama hampir dua tahun. Mengundurkan diri menjadi pilihan Rahman untuk dapat membuka lembaran baru di jenjang karirnya.

Setelah angkat kaki dari perusahaan ritel bermaskot lebah itu, ia membuka lembaran baru dengan bekerja di salah satu perusahaan air minum terkemuka di Kota Bandung. Awal bergabung dengan perusahaan ini, Rahman langsung diberi jabatan yang tinggi sebagai seorang manajer keuangan. Selang seminggu, justru hal mengejutkan dilakukan oleh Rahman. Ia keluar dari perusahaan ini. Betapa tidak mengejutkan? Ia baru saja menduduki kursi manajer, kemudian ia secepat itu meninggalkannya. Namun, alasan di balik semua itu lebih menarik. Sebelum resign, Rahman secara tak sengaja sempat bertemu dengan salah seorang sahabat lamanya yang merupakan seorang entrepreneur di bidang konstruksi. Obrolan panjang dengan sahabatnya itu membuat ia akhirnya mengambil langkah berat. Ia meninggalkan kursi panas manajer untuk mengarungi tantangan baru sebagai seorang entrepreneur di bidang konstruksi.

Baca juga : “Ina : Rumah Singgah, Rumah Harapan”

Berbekal dengan keyakinan dan strategi pemasaran dari mulut ke mulut, pria yang pernah menjadi ketua dari salah satu komunitas otomotif roda empat di kota kembang ini pun memulai usahanya dengan bendera “Putra Sejati”. “Awalnya saya sangat takut. Terlebih lagi banyak sekali pro kontra yang ada di keluarga. Namun saya yakin untuk mewujudkan mimpi saya ini. Dan Allah pasti akan memberi jalan untuk rejeki itu datang”, jelas Rahman kepada Unspoken Journal. Berasal dari bidang ilmu yang berbeda dengan apa yang akan dia hadapi saat ini, Rahman tak kunjung gentar. Berbekal dengan pengetahuannya yang minim tentang dunia konstruksi, ia tetap melanjutkan langkahnya tersebut. “Pengetahuan saya di bidang konstruksi, berasal dari obrolan-obrolan ayah saya dengan para pelanggan toko bangunannya. Dan hal itu terus terngiang di telinga saya hingga di bangku kuliah”, tambahnya. Ya, ayah Rahman memang seorang wirausahawan yang memiliki toko bahan bangunan.


Hari demi hari ia lewati. Pasang surutnya dunia usaha pun ia hadapi. “Memang berat menjadi seorang wirausaha. Penghasilan juga tidak tetap dibanding dulu ketika menjadi pegawai”, tutur Rahman menceritakan perjuangannya dulu. Di satu titik, ia pernah hampir menyerah ketika proyek yang sedang dijalankannya ternyata tertimpa musibah, yaitu ketika sang pelanggan tidak kunjung melunasi pembayarannya hingga detik ini. Ia pun sangat tertekan ketika dihadapkan dengan permasalahan hutang, kerugian, dan beban untuk membayar para pekerjanya. Perasaan untuk segera menyerah pun seringkali menghinggapi benaknya. Namun perlahan, ia mulai bangkit dan mencari cara untuk terlepas dari belenggu keterpurukan yang ada. Lalu, apa yang menjadi filosofi utama dari bisnis yang ia sedang jalani hingga saat ini sehingga ia tidak begitu saja menyerah? “Pelayanan. Itu filosofi inti dari menjadi seorang wirausaha seperti saya ini”, jawabnya. Ia berpendapat bahwa pendapatan yang ia peroleh dari usahanya adalah poin nomor sekian. Yang utama baginya adalah dengan menjadi seorang wirausahawan, ia dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama di bidang konstruksi.

Kini, sang Putra Sejati telah melewati fase jatuh bangun dalam menggerakan roda perusahaan. Ia pun kini telah berkeluarga. Selain terus mengembangkan sayap usahanya, ia juga terlibat aktif di kancah politik terutama di Kota Bandung dan sekitarnya. Dengan berpedoman filosofi “pelayanan” tadi, manuvernya di bidang politik pun akhirnya menemukan titik terang dan membawa feedback positif bagi usaha yang ia geluti. Pesan yang ingin ia sampaikan pada generasi muda, “Jangan pernah takut untuk memulai usaha. Memang pasti berat pada awalnya dibandingkan dengan menjadi seorang pegawai yang penghasilannya tetap dan pasti. Diremehkan, itu sudah biasa. Namun, jangan biarkan realita kehidupan mengubur mimpi kita. Ingat, kita harus yakin bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita dan pasti akan membukakan pintu rezeki bagi kita selama kita selalu berusaha dengan sebaik mungkin”.

 

  • Penulis      : Maulana Muhammad & Arri Rama Putra
  • Redaktur   : Arri Rama Putra
  • Foto          : instagram.com/rahmanps

 


Share this page with :