Mohamed Salah VS Islamophobia di Benua Biru

“Mohamed Salah, a gift from Allah
He came from Roma to Liverpool
He’s always scoring, it’s almost boring
So please don’t take Mohamed away”

unspokenjournal.com – Sepenggal bait di atas adalah chant yang kerapkali dikumandangkan oleh pendukung klub sepakbola asal negeri Ratu Victoria, Liverpool F.C. dari Inggris. Seorang pemuda berumur 25 tahun menjadi idola baru bagi publik Anfield stadium. Dia adalah Mohamed Salah. Pemuda muslim berkebangsaan Mesir yang kini menjadi sosok “predator lapangan hijau” di English Premiere League. Baru-baru ini pemain tim nasional Mesir itu mendapatkan Golden Boot Award atas torehan golnya sepanjang musim 2017-2018 dan menobatkannya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah liga utama sepakbola Inggris tersebut. Penampilan ciamik winger berjanggut lebat itu memang sangat mencuri perhatian dunia. Tak ayal klub-klub besar seperti F.C .Basel, Chelsea F.C., hingga A.S. Roma pernah merasakan servis dari dirinya. Musim ini, Salah mengenakan nomor punggung 11 bagi The Reds, julukan  dari klub Liverpool F.C. Bahkan, Ia digadang-gadang sebagai regenerasi pemain sepakbola fenomenal baru setelah era Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Di balik performanya di lapangan hijau yang sangat memukau hingga mampu membawa Liverpool F.C. ke partai UEFA Champions League 2018, ternyata Salah adalah pribadi yang menyenangkan. Selain terkenal ramah kepada para fans-nya, Salah juga dikenal sebagai sosok yang religius. Bagaimana tidak? Seringkali ketika Salah mencetak gol, Ia merayakan gol-golnya tersebut dengan selebrasi “sujud” sebagaimana salah satu gerakan ritual umat muslim ketika sedang melakukan shalat. Salah juga tidak pernah lupa memanjatkan doa baik sebelum dan setelah pertandingan berlangsung. Beberapa kali dirinya juga tertangkap kamera sedang membaca kitab suci Al-Qur’an ketika sedang dalam perjalanan untuk melakoni partai-partai yang harus dihadapi klub dimana Ia bermain. Sumber lain mengatakan bahwa Salah selalu bersuci dengan mengambil air wudhu sebelum dirinya melakoni laga. Salah satu yang paling diingat publik adalah ketika Salah meminta izin untuk digantikan oleh pemain cadangan kepada staf pelatih Liverpool F.C. ketika pertandingan sedang berlangsung agar dirinya dapat menunaikan ibadah shalat. Di sisi lain, keharmonisan rumah tangga Salah beserta istri dan putrinya sering kali menjadi sorotan.

Baca juga : “Hendra Arrazi : Sang Serigala Yang Melankolis”

Mohamed Salah adalah fenomena luar biasa di tengah kentalnya nuansa Islamophobia di dataran Eropa. Dampak dari aksi-aksi radikal yang mengatasnamakan agama Islam, perlahan-lahan mulai terhapus dengan sosok humanis seorang Mohamed Salah di lapangan hijau. Memang, Salah bukanlah pesepakbola termahsyur pertama yang menganut Islam. Nama-nama seperti Zinedene Zidane, Frank Ribery, Karim Benzema, hingga Mesut Ozil sudah lebih dulu mencuat ke permukaan. Namun, sosok Mohamed Salah menunjukan citra positif bagi agama Islam dengan keunikannya tersendiri. Salah secara tidak langsung membawa kesejukan dan kedamaian di hati publik Eropa yang mayoritas adalah bukan penganut Islam. Memang, sudah menjadi rahasia umum bahwa selama ini masyarakat di dataran benua biru itu merasakan ketakutan yang berlebihan ketika bersinggungan dengan hal-hal yang bernuansa Islami. Mulai dari pakaian hijab yang dikenakan kaum muslimah, hingga dikumandangkannya adzan ketika waktu shalat telah tiba. Seorang pemuka agama asal Indonesia, K.H. Bachtiar Nasir bahkan mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan Mohamed Salah adalah “suatu bentuk dakwah dengan cara yang keren bagi anak muda”. Bahkan dirinya menghimbau anak-anak muda di belahan dunia manapun untuk mengikuti jejak Salah, tentunya di bidangnya masing-masing. Sisi-sisi humanis yang ditunjukan Salah jauh lebih efektif ketimbang hal-hal yang berbau penyimpangan seperti radikalisme dan terorisme untuk mengukuhkan martabat agama Islam yang hakiki, yang sangat mencintai kedamaian dan menjunjung tinggi kerukunan umat beragama. Mohamed Salah yang tetap bisa menjaga hak beragamanya sambil juga terus menunjukan prestasi dan hidup rukun dengan rekan-rekannya yang berbeda keyakinan di sebuah dataran yang konon katanya memiliki “pandangan miring” tentang agama yang dianutnya. Sangat banyak sisi positif dari diri Mohamed Salah yang dapat kita jadikan contoh. Live long and prosper, The Egyptian King.

 

  • Penulis      : Arri Rama Putra
  • Redaktur  : Arri Rama Putra
  • Foto          : http://google.com/
Share this page with :