Ina : Rumah Singgah, Rumah Harapan

unspokenjournal.com – Kanker merupakan salah satu penyakit yang sangat mematikan di dunia. Dengan jenis yang tercatat lebih dari 100 macam, penyakit yang disebabkan oleh virus ini menjadi momok mematikan bagi setiap manusia. Dilansir dari www.citizen6.liputan6.com mengenai fakta tentang kanker, lebih dari 20 ribu kematian terjadi setiap harinya disebabkan oleh penyakit tersebut. Data ini sangat mengerikan, mengingat banyaknya penyebab kanker yang tidak dapat dideteksi.  Menilik fakta tersebut, sudah sepatutnya kita waspada. Kanker tidak pernah memandang usia maupun gender. Semua orang berpotensi terserang kanker, tak terkecuali anak-anak. Mereka yang biasanya tidak terlalu memerhatikan proteksi diri sendiri karena masih ingin bermain, lebih rentan terkena berbagai macam penyakit termasuk kanker. Meskipun begitu, banyak faktor yang memengaruhi baik faktor keturunan (internal), maupun lingkungan (eksternal). Selain itu, kanker bisa muncul karena faktor-faktor di luar dugaan.

Jika dilihat dari proses penyembuhannya, kanker yang menderita anak-anak ini memerlukan waktu hingga 3-4 tahun tergantung dari jenis penyakitnya. Bahkan, cara penanganannya pun berbeda-beda. Ada yang melalui pengobatan medis hingga kemoterapi. Sang anak yang sejatinya bermain dengan anak sebayanya, malah harus mendapatkan perawatan yang berkepanjangan dan ditemani oleh proses-proses yang mungkin tidak mereka duga sebelumnya.

Baca juga : “Hendra Arrazi : Sang Serigala Yang Melankolis”

Hal inilah yang menjadi dasar bagi Maria Dwi Akuarina Mahda atau akrab disapa Ina, wanita kelahiran 1972 untuk turut serta dalam menjaga dan mendampingi anak-anak penderita kanker. Ia bekerjasama dengan Yayasan Kanker Anak Indonesia yang berpusat di Jakarta, mendirikan rumah singgah bagi anak-anak penderita kanker untuk dapat menerima hak-hak mereka sebagai seorang anak, baik hak mereka untuk bermain, maupun hak mereka untuk mendapatkan pendidikan. Rumah singgah ini beralamat di Jl. Taman Curie No.23, Kota Bandung. Rumah yang luasnya sekitar 8×10 m ini memiliki beberapa kamar tidur, termasuk ruang belajar agar para anak bisa mendapatkan hak mereka sebagai pelajar.

Sebagai ketua Yayasan Kanker Anak Indonesia cabang Bandung, ia merasa bahwa perhatian terhadap anak kanker harus ekstra karena mereka lebih rentan baik secara psikologis maupun secara fisik. Perhatian ini pernah ia curahkan kepada buah hatinya. Ya, jika pernah mendengat peribahasa, “bak petir di siang bolong”,  itulah yang yang dirasakan oleh Ina. Ia tak pernah menyangka bahwa buah hatinya merupakan seorang penderita kanker leukemia (kanker darah). Berbagai macam alasan ia cari untuk mengetahui kenapa sang anak menderita penyakit ini. Namun, nihil. Tidak pernah ia mendapat jawaban dari apa yang selalu ia tanyakan. Bahkan ia sempat menyalahkan suami, keluarga, hingga Tuhan atas apa yang terjadi pada sang buah hati. Namun pertemuannya dengan salah satu pendiri yayasan anak kanker Indonesia, Ira Sulistyo, di Jakarta mengubah persepsinya. Ia lebih bersemangat dalam mengusahakan kesembuhan anaknya, sembari mencoba menolong orang lain dengan memberikan tempat yang nyaman untuk mereka singgah. Lewat rumah singgah, Ina mencoba menolong orang-orang yang anaknya menderita kanker untuk dapat singgah walaupun sementara, di rumah yang jaraknya tidak jauh dari tempat berobat mereka. Semua penghuninya merupakan pasien rumah sakit Hasan Sadikin Bandung.

Tiga tahun berselang, setelah berbagai pengobatan telah dijalani oleh sang anak, Tuhan berkehendak lain. Anak kedua Ina yang merupakan anak perempuan satunya-satunya, telah menyelesaikan tugasnya di dunia. “Jarang ada orang tua yang mengantarkan anaknya sampai selesai, kalau yang sampai nikah saja sih banyak”, ujar Ina. Satir yang sebetulnya terdengar lirih ketika diucapkan ini, tetap membuat Ina bahagia. Ia dapat menyaksikan sang anak berpulang justru dengan kondisi yang baik. Kebanyakan anak-anak penghuni rumah singgah berpulang dengan kondisi yang lebih parah, seperti infus di tangan, bahkan dengan selang oksigen di hidung. Bertahun-tahun berada di lingkungan anak-anak yang ceria namun sebetulnya mereka sakit, selalu mengingatkan Ina kepada sang anak yang telah berpulang. Namun hal tersebut justru selalu membuat Ina bersemangat dalam memberikan bantuan moral pada ibu dari anak-anak penderita, jika selalu ada harapan. Meskipun kita tidak pernah tahu rencana Tuhan, namun memberikan yang terbaik adalah kewajiban para orang tua. Yang selalu Ina yakini, bahwa persinggahan berarti harapan. Selama harapan masih ada, selama itu pula kita harus tetap berjuang.

 

  • Penulis     : Maulana Muhammad
  • Redaktur : Arri Rama Putra
  • Foto          : Dokumentasi pribadi

 


Share this page with :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *