Totalitas dan Konsistensi

unspokenjournal.com – Kesuksesan adalah idiom yang paling digemari oleh masyarakat luas yang haus akan pencapaian duniawi. Ya, memang benar begitu fakta yang ada. Manusia tak henti-hentinya berjibaku melawan kerasnya kehidupan untuk menggapai kesuksesan mereka dengan definisinya masing-masing. Bersimbah darah, berbalut luka, bermandikan keringat, dan air mata tak lagi mereka rasakan. Namun, di balik semua itu, ada dua kunci utama yang seringkali diabaikan dalam meraih kesuksesan, yaitu totalitas dan konsistensi. Acapkali totalitas dan konsistensi ini terbentur dengan kewajiban kita untuk berkompromi dengan realita-realita palsu yang dibentuk oleh pemikiran-pemikiran pesimis terhadap kehidupan.


Kita lempar jauh ke belakang, tentang kehidupan masa kecil seorang karyawan swasta yang telah menghabiskan belasan tahun hidupnya mengabdi sebagai seorang budak korporat. Bangun di pagi buta untuk berangkat kerja menggunakan kendaraan umum, berdesak-desakan, menahan amarah dan kantuknya sudah biasa ia lakukan sehari-hari. Ketika senja menjelang, hal yang serupa kembali ia lakukan untuk sekedar melepas lelah dengan tidur di malam hari walaupun hanya beberapa saat. Embel-embel membiayai kehidupan istri dan anak-anaknya menjadi momok yang membelenggu mimpi seorang anak yang memiliki cita-cita menjadi seorang pesepakbola. Ketika anak itu berumur lima tahun, ia memiliki mimpi menjadi pemain sepakbola terkenal. Masuk ke dalam Sekolah Sepak Bola (SSB) dalam rangka menapaki mimpi yang ingin ia peroleh telah ia lakukan. Semasa ia bersekolah, prestasi dari kegiatan ekstra kurikuler yang berkaitan dengan dunia sepakbola pun selalu ia raih. Tak khayal jika ia menjadi primadona di sekolahnya. Beasiswa pun ia raih. Namun, saat ia memasuki jenjang perguruan tinggi, sang ayah memilihkan jalan hidup anaknya dengan menjadikannya seorang mahasiswa ekonomi. Dengan dalih bahwa menjadi seorang ekonom yang dengan mudah akan mendapatkan ruang di lapangan kerja nanti, sang ayah memaksakan kehendaknya. Apa mau dikata? Tunduklah anak tersebut pada keputusan orang tuanya dan perlahan mengubur impiannya untuk menjadi seorang pesepakbola. Belum kunjung ikhlas dengan nasib yang diterimanya, sang anak pun terus menggeluti dunia sepak bola dengan bergabung bersama unit kegiatan sepak bola mahasiswa di kampusnya. Namun, itu semua berhenti sampai sana. Selulusnya ia dari perguruan tinggi, gelar sarjana yang ia miliki mengharuskan ia menggeluti pekerjaan yang berkenaan dengan dunia ekonomi. Akhirnya, pupus sudah impian anak tersebut untuk menjadi seorang pesak bola professional.

Baca juga : “Kekuatan, Kejujuran, dan Bahasa Air Mata”

Sesungguhnya kisah-kisah seperti di atas sudah bukan hal yang tabu bagi masyarakat luas. Usaha kompromi kita dengan kehidupan, kerap kali justru mengubur impian kita yang mungkin saja adalah jalur kesuksesan kita yang sesungguhnya. Kita lebih memilih untuk “hidup aman” dibanding mengabdikan diri kita secara total dan konsisten untuk meraih kesuksesan yang sesuai dengan nurani kita. Saya pribadi yakin, orang-orang yang sukses adalah mereka yang berani mengambil resiko untuk benar-benar total menggeluti bidang yang mereka gemari. Usaha yang konsisten, terus menerus tak kenal waktu dan lelah menjadi penyokong keberhasilan mereka. Apakah seorang Lionel Messi meraih kesuksesannya sebagai seorang pesepakbola dalam kurun waktu yang singkat? Apakah seorang Cristiano Ronaldo menggeluti bidang sepak bola dengan setengah-setengah sembari mengambil kuliah di jurusan komputer, dengan alasan andai kata ia gagal menjadi pesepak bola ia akan bekerja sebagai programmer? Saya rasa tidak. Saya rasa mereka adalah contoh nyata bahwa menjadi setengah-setengah bukanlah jalan yang harus ditempuh untuk menggapai mimpi mereka. Bagi mereka, saya yakin bahwa menjadi pesepak bola yang sukses adalah impian yang harus diraih dan tidak boleh ada kata gagal untuk mencapai impian. Dengan meniadakan jalur-jalur hidup cadangan dalam kehidupannya, mau tidak mau mereka tidak memiliki pilihan lain selain menjadi sukses di bidang yang mereka geluti. Hal tersebut pun saya yakin dilakukan pula oleh orang-orang sukses lainnya di bidang apapun. Lalu, jikalau mereka-mereka yang sukses telah melakukan hal tersebut, mengapa kita masih saja berkompromi dengan kehidupan ini?

Saya rasa kita semua terlalu banyak berkompromi dengan kehidupan. Alih-alih meraih kehidupan yang aman, malah membuat kita menjalani kehidupan yang ala kadarnya. Kita sudah lupa dengan makna dari peribahasa “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Kita bahkan menciptakan peribahasa sendiri yaitu, “setengah bersakit-sakit, setengah bersenang-senang”. Jika kita memiliki impian, jadilah pemimpi yang tidak hanya bermimpi. Namun, jadilah pemimpi yang berusaha membuat mimpinya itu hidup di dunia nyata. Belum terlambat bagi kita untuk mewujudkan kehidupan yang kita impikan sedari belia, selagi kita siap menanggung resiko yang harus kita hadapi sambil terus mengiringi pilihan hidup kita dengan totalitas dan konsistensi. Karena sesungguhnya, kesuksesan itu adalah upaya kita untuk menaklukkan kehidupan, bukan usaha untuk berkompromi dengannya.

 

  • Penulis     : Arri Rama Putra
  • Redaktur  : Arri Rama Putra
  • Foto          : instagram.com/maulanadika


Share this page with :

8 thoughts on “Totalitas dan Konsistensi”

  1. Thanks for your posting. One other thing is when you are disposing your property on your own, one of the difficulties you need to be cognizant of upfront is how to deal with house inspection reviews. As a FSBO vendor, the key to successfully shifting your property and also saving money in real estate agent revenue is knowledge. The more you realize, the softer your sales effort is going to be. One area in which this is particularly significant is home inspections.

  2. Merely a smiling visitor here to share the love , btw outstanding style. Audacity, a lot more audacity and always audacity. by Georges Jacques Danton. dfdbedfeekeg

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *