Menguak Cahaya Di Negara Adidaya

unspokenjournal.com – Masih ingatkah Anda dengan tragedi 9/11? Ya, tragedi ini menjadi salah satu tragedi paling mengerikan dalam sejarah kehidupan manusia. Betapa tidak, sepasang gedung megah pencakar langit bernama World Trade Centre di New York, hancur setelah dihantam oleh empat pesawat penumpang yang dibajak. Padahal, WTC telah menjadi gedung yang sangat dielu-elukan oleh penduduk Amerika sejak tahun 1973. Namun aksi terorisme membuat gedung yang akrab disapa gedung kembar ini rata dengan tanah pada 11 September 2001. Tidak kurang dari 3000 orang tewas. Sejarah mencatat, kejadian ini menjadi titik yang mengubah pandangan Amerika Serikat, sang adidaya kepada Islam. Muncul istilah “Islamophobia” di kalangan masyarakat Amerika Serikat yang menganggap bahwa aksi teror pada 9/11 adalah ulah umat Islam. Mereka mempercayai bahwa kelompok Al-Qaeda yang dipimpin Osama Bin Laden menjadi dalang di balik aksi ini. Meskipun hingga saat ini, banyak kejanggalan yang tak pernah terpecahkan. Banyak konspirasi yang muncul di kalangan masyarakat. Tak hanya di Amerika Serikat, bahkan masyarakat dunia. Namun, “Islamophobia” tetap menjadi efek dari tragedi maha dahsyat itu. Lalu apa sebetulnya “Islamophobia”? Dan bagaimana perkembangan Islam di Amerika Serikat setelahnya? Mari kita bahas.

“Islamophobia” sendiri berasal dari kata Islam dan Phobia. Kata ini memiliki makna sikap benci dan takut akan semua hal yang berbau Islam. Setelah kejadian 9/11, citra Islam di mata para penduduk Amerika Serikat berubah drastis. Kaum Muslim di Amerika Serikat terutama imigran asal Timur Tengah merasakan getahnya. Mereka mengalami kondisi psiokologis yang sangat berat, yakni dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan dan diasosiasikan dengan teroris. Hal yang sama dialami oleh kaum Muslim di Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Pemerintahan yang dipimpin George Walker Bush (presiden Amerika Serikat kala itu) segera mengetatkan aturan imigrasi dan mengawasi kaum imigran Muslim secara berlebihan. Namun, ada fakta lain di balik itu. Fakta yang justru mengejutkan jika menilik kejadian 9/11. Pasca peristiwa yang dikenal dengan istilah nine eleven, terjadi pertumbuhan Islam yang pesat di Amerika Serikat. Tidak kurang dari 20.000 orang Amerika Serikat masuk Islam setiap tahun setelah kejadian itu. Pernyataan “syahadat” untuk masuk ke dalam Islam terus terjadi di kota-kota besar di Amerika seperti New York, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan lainnya. Bahkan, Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum (Newsday Religion Writer, Newsday) mengungkapkan, “Islam is the fastest growing religion in the country”. Fakta-fakta ini menjadi penguat bahwa Islam kala itu bukanlah terjatuh melainkan bangkit. Banyak orang yang pada awalnya membenci Islam, justru masuk Islam pada akhirnya.

Berkembangnya Islam di negara adidaya tidak hanya sampai di situ. Dilansir dari laman Wikipedia.org, hingga tahun 2014, tercatat sebesar 0,9% atau sekitar 2,9 juta warga Amerika Serikat memeluk agama Islam dan menjadi agama terbesar ketiga setelah Kristen dan Yahudi. Bahkan, studi di Amerika Serikat awal tahun 2018 ini mengatakan, bahwa Islam akan menjadi agama terbesar kedua dengan jumlah 2,1%  atau sekitar 8,1 juta orang pada tahun 2050. Angka ini menunjukkan “Islamophobia” yang muncul di Amerika Serikat tidak mempengaruhi mereka yang ingin memeluk agama Islam. Meskipun sebetulnya banyak sekali regulasi dari pihak negara adidaya tersebut yang memberatkan para warga muslim. Salah satu contohnya adalah larangan wisatawan ataupun imigran datang (travel ban) dari 6 negara muslim, yakni Iran, Libya, Suriah, Somalia, Sudan, dan Yaman oleh presiden Donald Trump. Sang presiden yang identik dengan rambut pirangnya, menerapkan gerakan “Islamophobia” yang nyata di kalangan masyarakat Amerika Serikat setelah menjabat jadi presiden Amerika pada tahun 2017 lalu. Padahal jika kita menilik sejarah Amerika serikat, Islam menjadi salah satu DNA penting yang ada di dalamnya.

Baca juga : “Mohamed Salah VS Islamophobia di Benua Biru”

Buku sejarah dan literatur modern telah secara resmi mendeklarasikan bahwa penemu benua Amerika adalah Christopher Columbus. Sang penjelajah asal negeri pizza, Italia ini, menemukan “dunia baru” pada tanggal tanggal 12 Oktober 1492. “Dunia baru” ini kemudian kita kenal dengan benua Amerika. Namun, sebuah salinan peta kuno berusaha ratusan tahun ditemukan dan mengancam status Columbus sebagai penemu Amerika.  Selain itu, menjadi kunci untuk membuktikan bahwa orang dari Negeri China-lah yang pertama menemukan benua itu. Dokumen tersebut konon berasal dari suatu ketika di abad ke-18, yang merupakan salinan peta tahun 1418 yang dibuat seorang laksamana dari Negeri China. Di dalam peta tersebut, ditunjukkan detil “dunia baru” dalam beberapa sisi. Ya, dia adalah Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah yang menemukan Amerika, 70 tahun sebelum Columbus. Dalam beberapa literatur juga dikatakan bahwa armada megah kapal China yang dipimpin Laksamana Cheng Ho berlayar di sekitar daratan Amerika Selatan, 100 tahun sebelum Ferdinand Megellan (orang pertama yang berlayar dari Eropa ke Asia, orang Eropa pertama yang menjelajahu Samudera Pasifik, dan orang pertama yang memimpin ekspedisi yang bertujuan mengelilingi dunia). Bahkan ada literatur yang mengatakan, DNA suku Indian Amerika dan pribumi lainnya merupakan pemukim dari Asia. Laksamana Cheng Ho ternyata tidak hanya menamukan dunia baru pada tahun 1421, tapi meninggalkan koloni di sana. Armadanya juga berlayar di sekitar ujung Amerika Selatan, melalui Selat Megellan sekitar Teluk Meksiko  sampai Mississippi.

Tak hanya Laksamana Cheng Ho, berabad sebelumnya pelaut-pelaut Muslim dari Spanyol dan Afrika Barat telah membuat kampung-kampung di Amerika dan berasimilasi secara damai dengan penduduk lokal di sana. Ada sejumlah literatur yang berangkat dari fakta-fakta empirik bahwa umat Islam sudah hidup di Amerika beberapa abad sebelum Columbus datang. Salah satu yang paling popular adalah essay karya Dr. Youssef Mroueh dari Preparatory Commitee for International Festivals to celebrate the millennium of the Muslims arrival to the Americas, tahun 1996, yang berjudul “Precolumbian Muslims in America”. Dalam essaynya, Doktor Mroueh menulis, “Sejumlah fakta menunjukkan bahwa Muslim dari Spanyol dan Afrika Barat tiba di Amerika sekurang-kurangnya lima abad sebelum Columbus. Pada pertengahan abad ke-10, pada waktu pemerintahan Khalifah Umayyah, yaitu Abdurrahman III (929 – 961M). Kaum Muslimin yang berasal dari Afrika berlayar ke Barat dari pelabuhan Delbra (Palos) di Spanyol, menembus “samudra yang gelap dan berkabut”. Setelah menghilang beberapa lama, mereka kembali dengan sejumlah harta dari negeri yang “tak dikenal dan aneh”. Ada kaum Muslimin yang tinggal bermukim di negeri baru itu dan mereka inilah kaum imigram Muslimin gelombang pertama di Amerika”.

Fakta-fakta ini merupakan bagian dari DNA Amerika Serikat yang tak bisa terbantakkan lagi. Islam menjadi suatu bagian sejarah penting bagi sang negara adidaya dan berlanjut hingga kini. Sejumlah masjid megah berdiri di negeri Paman Sam. Salah satunya adalah Islamic Center of Washington. Masjid ini menjadi pusat kegiatan islam yang diresmikan pada tahun 1957 oleh presiden Amerika Serikat pada saat itu Dwight Elsenhower. Dalam pidatonya mengatakan bahwa tradisi dan budaya Islam memiliki pengaruh yang penting bagi peradaban dunia. Bahkan, terdapat salah satu masjid paling megah yang dibuat di kawasan Michigan, Amerika Serikat. Masjid ICoA (Islamic Center of America) yang dibangun di tanah seluas 21.000 m2. Masjid ini menjadi salah satu masjid paling megah yang dibangun di Amerika Serikat. Namun, “Islamophobia” menjadi salah satu isu yang melunturkan DNA itu di kalangan masyarakat Amerika Serikat modern. Masyarakat Amerika Serikat dan bahkan masyarakat dunia, terelakkan dengan isu-isu terorisme dengan bendera Islam. Padahal jika ditelisik, tidak ada satu agamapun yang mengajarkan kezaliman terhadap sesama makhluk hidup, tak terkecuali Islam. Pepatah “terrorism has no religion”, menunjukkan bahwa agama bukanlah menjadi alasan mengapa terorisme itu terjadi, baik di negeri adidaya maupun belahan dunia lainnya.


Share this page with :

9 thoughts on “Menguak Cahaya Di Negara Adidaya”

  1. Rüyada ölü yılan görmek, rüya sahibinin, yeni tanıştığı bir kişiye
    karşı kibirli davranarak bir günah işlediğini gösterir.
    Bu kişiyi tekrar görme şansı var ise, bu kişiye daha iyi davranarak
    gönlünü alması gerektiğine tabir edilir.

  2. There are many premier digital printer on the market which can be committed in supplying high
    quality digital printing services at affordable prices.
    Just maintain vigilance and determination and you will probably will have the top posters for presenting to your mass audience.
    What can be these activities, to relish this father day more memorably.

  3. You could definitely see your skills within the work you write.
    The sector hopes for more passionate writers
    such as you who are not afraid to mention how they believe.
    Always follow your heart.

  4. I was suggested this website by my cousin. I’m not sure whether this post is written by him as no one else recognise such distinct approximately my
    difficulty. You are wonderful! Thank you!

  5. This design is wicked! You most certainly know how to keep a reader amused.

    Between your wit and your videos, I was almost moved to start my own blog (well,
    almost…HaHa!) Wonderful job. I really loved what you had to say, and more than that, how you presented it.
    Too cool!

  6. Sweet blog! I found it while browsing on Yahoo News. Do you have any tips on how to get listed in Yahoo
    News? I’ve been trying for a while but I never seem
    to get there! Thank you

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *