Magang dan Uniknya Bis di Cairo

unspokenjournal.com – Menurut KKBI Online, magang adalah calon pegawai (yang belum diangkat secara tetap serta belum menerima gaji atau upah karena dianggap masih dalam taraf belajar) atau secara singkatnya adalah kegiatan bekerja di suatu perusahaan tanpa kompensasi tertentu. Banyak para mahasiswa hingga para lulusan sarjana universitas melakukan kegiatan ini untuk mendapatkan pengalaman sebelum mamasuki dunia kerja yang sebenarnya, tak terkecuali Febriandi. Seorang pria yang berasal dari Sumatera ini memiliki pengalaman magang yang tak biasa. Kebanyakan lulusan sarjana di Indonesia memilih magang di perusahaan yang ada di Indonesia untuk mendapatkan posisi di perusahaan tersebut, namun pria yang akrab disapa Rian ataupun Feri ini memilih untuk pergi ke negeri sebrang yakni Mesir untuk magang. Kairo (Cairo dalam bahasa Inggris) menjadi kota tujuan Rian setelah lulus sebagai sarjana Humaniora di Universitas Padjadjaran Bandung.

Dua bulan menjadi waktu yang Rian habiskan di negara yang terkenal akan kota Alexandrianya ini. Berbagai macam fasilitas yang unik, dari mulai rumah, penginapan, hingga bis kota telah ia coba. Namun ada satu hal yang paling unik, yakni estafet ongkos dari penumpang hingga supir. Mungkin akan terbersit seperti apa mekanisme uniknya dan bagaimana jika kita perlu uang kembalian? Berikut adalah cerita Febriandi yang dikutip dari websitenya, www.febriandi.com.

Naik bis kota di Cairo boleh jadi sama menyebalkan dengan naik bis kota di jalanan Jakarta. Bis-bis tua masih sangat banyak yang beroperasi dengan kondisi bis yang bisa dibilang sudah tidak nyaman lagi. Belum lagi kebiasaan dari bis-bis tersebut yang suka ngetem menunggu penumpang penuh, ditambah padatnya jalanan membuat berpikir ulang untuk bepergian menggunakan bis kota. Saya yang tinggal di Hay Ashir, salah satu “kecamatan” yang berada agak di pinggiran Cairo, hanya mempunyai opsi naik bis kota atau tramco (angkotnya Cairo) untuk bepergian menuju kantor tempat saya magang ataupun tempat-tempat lain. Untuk menuju tempat magang, saya hanya perlu satu kali naik bis dengan membayar ongkos 2 pound dengan waktu perjalanan sekitar 1 jam. Sebenarnya Cairo mempunyai subway sebagai opsi transportasi umum lain yang cukup layak, tepat waktu dan anti macet. Akan tetapi stasiun terdekat dari tempat saya tinggal itu cukup jauh. Jadilah bis dan tramco adalah dua pilihan terbaik. Di kota ini bis bisa berhenti dimana saja untuk menurunkan atau menaikkan penumpang. Pemandangan yang cukup sama dengan apa yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia.

Sebagaimana jalanan di negara-negara berkembang pada umumnya, jalanan Cairo juga mempunyai banyak drama. Sesama sopir bis sering sekali adu argumen di jalanan ampe teriak-teriak ga jelas. Kebanyakan dari apa yang mereka ributkan itu hanyalah berbagai hal sepele, mulai dari rebutan penumpang, saling nglakson sesama bis yang ngetem, atau hampir nyerempet satu sama lain di jalan. Untuk poin terakhir, itu sering sekali terjadi karena para sopir mengendarai bisnya awut-awutan, dan ini bukan hanya pengendara bis saja yang seperti itu, orang-orang yang bawa mobil pribadi juga sama edan nya. Salah satu teman saya yang orang asli Cairo, sering sekali dengan bangga nya menceritakan ke-edan­-an orang Cairo dalam berkendara. “Bro, kalo lo survive dengan jalanan di Cairo, lo bakal survive di jalanan manapun di dunia” katanya. Well yaa, dia belum pernah lihat dan merasakan jalanan Jakarta yang ga kalah edan-nya.

Selama dua bulan magang, selama itu juga saya mengakrabkan diri dengan jalanan Cairo menggunakan bis. Saya mulai berani untuk sendirian menggunakan bis di hari ke-5 sejak kedatangan. Sebagai “anak baru Cairo” tentu pada awal-awal kedatangan banyak dibantu teman-teman yang dulu satu sekolah pas SMP, yang semuanya merupakan mahasiswa Al-Azhar Cairo. Dan merekalah yang banyak menjelaskan tatacara menyetop bis dengan benar. Tidak semua bis dan tram di Cairo itu tertulis jelas dari dan tujuan nya kemana, apalagi untuk orang baru seperti saya, semua bis terlihat mirip, dan jikapun ada tulisan tentu dalam bahasa Arab.

Baca juga : “Menguak Cahaya Di Negara Adidaya”

Hebatnya, di Cairo kita bisa mengetahui arah bis ini pergi hanya dari simbol-simbol yang dibentuk menggunakan tangan. Untuk mengetahui apakah bis yang mau kita setop menuju Ramsis, pusat nya Cairo, kita cukup menggerakkan tangan dengan lima jari terbuka, seperti gerakan saat say goodbye, atau juga biasanya sopir bis atau tram juga menggerakkan tangan serupa untuk memberitahu bahwa mereka menuju Ramsis. Untuk mengetahui bis yang menuju Distrik 7, kita cukup menggerakkan tangan dengan jari telunjuk dan tengah membentuk simbol “peace”. Simbol “peace” tersebut diartikan sebagai angka 7 karna mirip dengan penulisan angka 7 dalam bahasa Arab. Dan ada beberapa simbol lagi yang mengacu ke daerah-daerah tertentu.

Terdapat hal menarik yang cukup unik dan saya rasa hanya terjadi pada bis-bis di sini, yaitu pola mengoper uang saat membayar ongkos. Jika si sopir bis membawa assistant, maka sang asisten tersebut lah yang akan menagih ongkos di tengah-tengah perjalanan. Akan tetapi, jika sopir tersebut bekerja sendirian tanpa bantuan sang assistant, para penumpang yang duduk di belakang, tidak perlu repot-repot mengantarkan ongkos langsung ke sopir di depan. Pernah satu kali di dalam bis saat saya sedang menuju kantor, tiba-tiba ada bapak-bapak yang duduk di belakang menepuk pundak saya sambil memberi uang pecahan 10 pound. Lah ya saya kaget dong ga ada badai ga ada hujan tiba-tiba dikasih uang sama orang asing. Lalu dengan wajah bingung saya abaikan dan setelahnya pundak saya ditepuk lagi, sayapun masih cuek kebingungan. Si bapak menggerutu sambil memberi uang tersebut ke orang di sebelah saya. Uang tersebut dioper-oper sampai ke si sopir, lalu si sopir mengoper uang kembalian sebesar 8 pound sampe ke tangan si bapak tersebut di belakang. Keesokan harinya saya duduk paling belakang dan mencoba “fitur” keren bis di sini. Saya kasih uang pecahan 50 pound, lalu dioper-oper sampai depan, sopirnya ngomel-ngomel karena nerima pecahan uang gede, tapi uang kembalian saya tetap sampai ke tangan tanpa kurang sedikitpun. Cool !!!

Uniknya bis di Cairo menjadi salah satu fakta dari negeri timur tengah yang indah. Hal ini bisa dirasakan oleh Rian karena keinginannya untuk mendapatkan pengalaman bekerja di Cairo. Walaupun Indonesia juga memiliki beragam kesempatan untuk kita agar dapat pengalaman bekerja, namun tidak ada salahnya untuk mendapatkan pengalaman yang lebih internasional. Selain karena dapat mengasah bidang pekerjaan yang ditekuni, bahasa Inggris juga akan terasah seiring dengan pengalaman tinggal di negeri orang dalam waktu tertentu.

 

  • Penulis      : Febriandi
  • Redaktur  : Maulana Muhammad
  • Foto          : http://google.com/


Share this page with :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *