Lorong Waktu Bernama “Puasa”

 

unspokenjournal.com Mengutip rumusan indah dari uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto dalam Surat Gembala Prapaskah 2016 , ’’Ada orang baik yang bertanya : ‘’Mengapa saya harus bertobat?’’. Jika pertobatan dilihat hanya dari aspek perbuatan jahat, orang baik tak perlu bertobat. Kalau pertobatan dilihat sebagai jalan untuk mendekatkan diri danmengandalkan Allah sehingga kita sungguh mengalami belas kasih Allah, setiap orang membutuhkan pertobatan’’.

Pra-paskah adalah hari raya yang mendahului hari raya Paskah mencakup empat puluh hari, memulainya dari Rabu abu hingga Minggu Paskah. Bagi umat Katolik Roma menyambutnya dengan tradisi puasa dan berpantang dalam perjalanan empat puluh hari itu. Namun melihat realitas hari ini, menjelang puasa, umat menyambut dan merayakan hanya sebagai formalitas ritual keagamaan, tanpa memaknainya secara mendalam pesan yang mau di sampaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi umat Yahudi, puasa berarti menahan diri secara keseluruhan dari makanan dan minuman, termasuk air. Bagi umat Kristen umumnya adalah pertobatan, melawan keinginan duniawi, secara khusus dimaknainya keinginan daging. Artinya keinginan manusia itu sendiri dan berpuasa tanpa diketahui oleh orang lain melainkan secara rahasia masing-masing pribadi.

Dalam ajaran Islam puasa, bersifat wajib, pada bulan Ramadhan hingga berpuncak pada Idul Fitri. Umat Islam memulai puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya, dengan niat yang sesuai dengan pesan kitab suci Al Quran. Umat islam juga memaknai bahwa puasa bisa menolong menanamkan sikap yang baik untuk menjalankan hidup selanjutnya.

Bagi umat Katolik Roma, puasa dimaknai sama dengan umat beragama lain. Sebenarnya hanya ada dua hari yang diwajibkan untuk berpuasa dalam ajaran Katolik Roma yaitu Rabu abu dan Jumat agung. Umat Katolik ditekankan untuk menahan hawa nafsu dari keinginan duniawi, sikap dan perbuatan harus tetap terjaga serta termasuk berpuasa atas hal-hal yang paling di sukai. Umat Katolik juga diharapkan untuk mengimbanginya dengan berdoa sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Di saat yang sama, umat Katolik memberikan perhatian untuk bertobat, beribadat, melaksanakan olah tobat dan karya amal.

Baca juga : “Human : The Philosophy of Oppositional Pair”

Melihat hari ini

Kini kita hidup di era penuh aksesoris dan selebritis. Kehidupan dimana orang mengutamakan tampilan luar. Balutan kemegahan dan penuh rekayasa. Orang menampilkan dirinya di ruang publik dengan gaya bahasanya yang selalu mendua. Tata krama sebagai budaya bangsa ini mulai terurai. Semakin menumpuknya manusia-manusia virtual yang lahir dari rahim modernitas. Di saat yang sama era digitalisasi mengurung peradaban budaya dan dimensi kultural kian tersisih.

Ritual keagamaan yang seharusnya sebagai ajang refleksi justru di jadikan sebagai ajang festival yang memamerkan keutamaan materialistis. Aura primordialisme semakin mengkristal. Jagat politik identik dengan kerakusan akan kekuasaan. Di saat yang sama agama di jadikan jalan pintas untuk menyebrangi tujuan politiknya. Komunikasi kian mendua, tampil dalam balutan kebohongan iman yang di paksakan.

Kepemimpinan populis dikepung oleh kaum oligarki. Berakibat pada macet dan maraknya program-program strategis yang seharus cepat di selesaikan. Tatanan ekonomi hanya fokus pada mekanisme pasar. Sistem ekonomi hanya untuk mengakumulasi modal asing, berpaling pada Lasswel, politik tidak lain hanyalah untuk kaum borjuasi dan pemodal.

Tatanan sosial di rusak oleh perilaku koruptif yang kian menggurita. Rasa solidaritas di abaikan. Ketaatan keagamaan hanya sebagai pintu gerbang retorika untuk membeli suara rakyat. Tatanan etis berbangsa di acak-acak oleh golongan preman berjas. Mereka tampil necis dalam membela kepentingan golongannya sendiri. Hukum bak sebuah utopia. Pasal-pasal yang di rancang punya perhitungan pasarannya.

Hidup antar umat beragama direduksi untuk tidak plural lagi. Negara punya ideologi pancasila, akhir-akhir ini disibukkan dengan konflik keagamaan. Paham demokrasi belum sepenuhnya di wujudkan. Bila prinsip dasar demokrasi adalah universalitas nilai, maka hal yang sama harusnya tampak juga dalam hidup keagamaan. Perbedaan yang harus di perdebatkan dalam negara demokrasi seharusnya perbedaan pendapat, bukan agama. Demokrasi lahir sebagai sistem yang menyetarakan sama halnya dengan agama yang memberi pedoman dasar dalam berdemokrasi.

Puasa mengingatkan kita untuk kembali

Rentan waktu empat puluh hari untuk puasa adalah waktu yang tepat untuk mengajak kita kembali ke hakekat kodrati dalam segala hal. Hakekat kemanusiaan untuk saling berbagi kasih. Kita diajak untuk bersama merenungkan semua yang telah berlangsung. Kesempatan untuk merefleksikan karya-karya kita dengan sesama. Kita di beri waktu untuk membenahi diri atas belas kasih Allah dalam meningkatkan sikap peduli dan memperdalam relasi dengan sesama.

Puasa pada dasarnya adalah latihan untuk merenung dan menguasai diri dengan cara menahan lapar dan haus, mengurangi jumlah makan, atau tidak memakan makanan tertentu. Namun lebih dari itu adalah bagaimana mengendalikan sikap serta hal-hal duniawi. Untuk menjadi manusia yang baik tentu kita harus belajar mengendalikan hasrat, nafsu atau keinginan (baik positif maupun negatif). Kita juga harus belajar menunda kenikmatan atau kesenangan. Puasa adalah salah satu (bukan satu-satunya) cara untuk mampu melakukan hal itu. Sebuah proses melihat kembali ke dalam diri kita.

Sebuah perjalanan untuk mengarungi hidup dengan berkonsentrasi pada atau fokus pada satu doa, harapan dan pergumulan tertentu saja. Hal ini bukan untuk menyiksa diri, melainkan untuk berlatih memahami dan membulatkan hati pada belas kasih Allah. Karena saat lapar, haus dan lemah manusia biasa sulit sekali untuk fokus pada satu tujuan dan harapannya, kecuali memuaskan rasa lapar dan dahaga. Oleh karenanya dengan berpuasa kita di biarkan pada godaan-godaan atas pergumulan batin.

Maka dalam dunia politik, kita harus beranjak untuk kembali ke jalan mendasar dari politik itu sendiri yaitu kepentingan bersama sebagai hakekat berpolitik. Demokrasi harus kembali pada prinsip dasarnya yaitu universalitas nilai sebagai modalitas menjamin hak hidup bersama. Ada kesetaraan yang harus di perjuangkan. Kepemimpinan adalah medan profetik. Medan yang mengutamakan melayani bukan dilayani.

Dunia ekonomi kembali ke jalurnya yaitu memperhatikan tatanan sosial warga bangsa. Logika pasar harus tidak melepaskan diri dari tatanan etis berbangsa. Hukum kembali menganut prinsip keadilan. Semua warga bangsa harus punya kedudukan yang sama di depan hukum. Ketegasan dan keterbukaan sistem dan manajemen (tidak semua) segera di benahi agar mengurangi penyakit sosial yang sistemik yaitu perilaku koruptif. Prinsip intitusi sosial yang adil dan penataan etika perlu di jalankan agar ruang bagi siasat jahat koruptif semakin sempit.

Hidup keagamaan perlunya keberanian untuk saling mengintip ajaran sesama agama. Prinsip identitas dalam keagamaan biarkan hanya untuk internal, untuk keluar harus mengarahkan pada ‘universal compassion’ (Bambang Sugiharto). Iman keagamaan harus mengarah ke otentisitas dari nilai-nilai kemanusiaan. Karena itulah hakekat orang beragama. Pancasila harus nyata dalam keseharian hidup kita.

Puasa mengajak kita untuk melatih kepekaan sosial. Karena orang akan peka ketika ia juga mengalami hal yang sama seperti penderitaan orang lain. Dalam hal ini kita dituntut untuk terlibat dalam setiap peristiwa hidup bermasyarakat. Namun puasa tidak langsung menjamin orang semakin suci dan beriman, puasa hanyalah salah satu dari sekian banyak tata cara berefleksi. Latihan badani selalu ada keterbatasannya.

Dalam gereja Katolik Roma puasa tidak di jadikan sebagai dogma ataupun aturan wajib. Namun gereja memberikan ruang dan waktu bagi umatnya untuk beranjak kembali pada hakekatnya sebagai manusia, ketika semua sudah melupakan esensi dari hidup dalam iman keagamaan. Ketika semua mengambil kesempatan untuk berpuasa maka kita di sadarkan akan belas kasih Allah akan kelemahan dan kerapuhan diri kita.

Puasa adalah jalan keheningan menuju mekanisme kejiwaan untuk membenahi diri, puasa adalah lorong waktu untuk mengingat kembali hakekat kemanusiaan yang telah dilupakan dengan ajakan untuk “bertolaklah ke tempat yang lebih dalam” atau dalam dalil semangat Ignatian di sebut sebagai “spiritualitas keterlibatan”.

 

  • Penulis         : Sanctus Gorgorius Sanpai
  • Penyunting  : Arri Rama Putra
  • Foto              : Maulana Muhammad

 

 

Share this page with :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *