God : The Real Engineer

unspokenjournal.com – Sebut saja aku Mondo. Seorang mahasiswa teknik tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di kota kembang, Bandung. Aku sangat bangga dengan statusku sebagai “anak teknik”. Tak dapat dipungkiri sering kali statusku itu membuat aku lupa diri. Aku menjadi sombong dan arogan terhadap mahasiswa-mahasiswa lain yang ada di luar program studi yang kutempuh. Alasannya pun jelas. Karena menurut banyak orang, bidang teknik adalah bidang yang cukup sulit untuk digeluti. Hal itu berarti seorang yang mendalami bidang teknik adalah orang yang bisa dikatakan cukup di atas rata-rata dibanding yang lainnya. Entah itu benar atau tidak adanya, namun hal itulah yang selalu terngiang di dalam telingaku dan selalu ditanamkan kepadaku oleh senior-seniorku yang kini telah lulus dan bekerja di bidang teknik.

Semester ini aku hanya disibukan dengan mengerjakan tugas akhirku. Semua mata kuliah yang harus aku tempuh, sudah kulalui dengan baik. Alhasil, di semester terakhirku ini, aku memiliki banyak waktu luang. Kebetulan pekan ini aku bersama sahabat-sahabatku pergi berwisata ke kawasan Ciwidey, Bandung Selatan. Kami menginap di sebuah vila tua yang dikelola salah satu yayasan gereja terkemuka dan dijaga oleh seorang pastur. Vila tersebut tidak begitu mengesankan bagiku. Di samping bangunannya yang sudah kurang layak, suasana disana pun cukup mencekam. Namun, ada satu hal yang menarik perhatianku. Yaitu, sang pastur pengelola vila tersebut.

Baca juga : “Human : The Philosophy of Oppositional Pair”

Dalam satu kesempatan, aku sempat berdialog banyak bersama dirinya. Ternyata, dia adalah seorang sarjana teknik sebelum akhirnya melanjutkan studinya di pendidikan teologia karena niatan dirinya menjadi seorang pemuka agama. Selain itu, dulu ternyata ia sempat menjalani karir di bidang konstruksi. Namun, semua itu akhirnya ditinggalkannya. Aku pun penasaran, apa yang membuat dirinya begitu yakin untuk meninggalkan karirnya yang bagiku cukup menjanjikan dari sudut pandang seorang mahasiswa teknik yang tentu saja masih minim pengetahuan tentang dunia kerja di bidang konstruksi. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya, “Pak, mengapa bapak lebih memilih menjadi pastur? Padahal berkarir di dunia konstruksi bukankah cukup menjanjikan? Lalu, bukankah gelar sarjana teknik bapak terbuang begitu saja? Pastilah bapak setuju bahwa menyelesaikan studi di bidang teknik dan menjadi sarjana teknik tidaklah mudah?”. Dia pun tersenyum sembari menjawab pertanyaanku itu. “Nak, kamu tahu apa esensi dari teknik itu?”, tanyanya padaku. “Teknik itu rekayasa pak. Kita merekayasa sesuatu dengan cara dan metode tertentu agar sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Bukankah begitu pak?”, tanyaku balik kepadanya. “Ya, betul sekali. Teknik itu adalah merencanakan dan merancang sesuatu yang belum ada hingga membuatnya menjadi nyata. Kita ambil contoh di bidang bangunan. Insinyur merencanakan dan merancang suatu bangunan hingga bangunan itu bisa dibangun dan menjadi suatu bangunan yang nyata. Padahal tadinya, bangunan tersebut hanyalah angan-angan, gambar, perhitungan, namun di tangan seorang insinyur semuanya bisa menjadi nyata”, imbuhnya. “Saya dulu seorang insinyur yang mengabdi kepada insinyur yang lain. Dan sekarang pun tetap begitu kok”, tambahnya. Aku pun mulai bingung. “Wah, saya kok jadi bingung ya pak?”, tanyaku lagi sembari sedikit tertawa. Sang pastur pun menjawab dengan ramah, “Saya dulu seorang insinyur di suatu perusahaan ternama. Saya dulu adalah bawahan insinyur lain yang lebih senior. Sekarang pun saya tetap mengabdi kepada insinyur yang justru lebih senior dari semua insinyur yang ada, yaitu Tuhan. Jikalau kamu pahami lebih jauh tentang esensi dari kata teknik atau rekayasa tadi dan mengartikannya sebagai kegiatan merencanakan serta merancang sesuatu yang tidak ada, lalu mewujudkannya menjadi sesuatu yang nyata, berarti insinyur yang sebenar-benarnya di alam semesta ini adalah Tuhan. Dia-lah yang merencanakan, merancang, dan membuat semua yang tadinya tidak ada menjadi ada. Itulah mengapa saya merasa bahwa saya tidak harus mengabdi kepada insinyur lain yang lebih senior dari saya di suatu perusahaan, melainkan saya harus mengabdi pada The Real Engineer, yaitu Tuhan”.


Aku pun terdiam mendengar jawabannya. Pemikiranku sebagai seorang mahasiswa teknik yang masih sangat dangkal namun cenderung sok tahu, seketika hanyut begitu saja mendengar apa yang pastur itu katakan. Aku menyadari bahwa selama ini, sudut pandangku mengenai apa yang sedang aku jalani begitu naif. Aku pun merasa bahwa aku perlu banyak belajar lagi tentang berbagai hal yang esensional di dunia ini. Karena, tidak dapat dipungkiri bahwasanya kita manusia sering kali terlena pada hal-hal yang sebetulnya hanya berada di permukaan namun menjadi jumawa ketika kita merasa mengetahui begitu banyak hal. Setelah perbicanganku dengan pastor itu, aku berharap semoga kelak kita dapat mempelajari dan mendalami begitu banyak hal yang berguna bagi kehidupan kita serta tidak lupa untuk lebih mengenal siapa Tuhan kita itu, yaitu “Sang Insinyur Yang Sesungguhnya”.

 

  • Penulis    : Arri Rama Putra
  • Redaktur : Arri Rama Putra
  • Foto         : Instagram.com/maulanadika


Share this page with :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *