Dunia Menantang Kita

unspokenjournal.com – Dunia dengan segala bentuk realitanya menghadirkan berbagai tantangan, rintangan, dan hambatan bagi kita untuk memenangkan sebuah pertandingan besar di hidup ini sehingga kita bisa meraih kesuksesan. Jika diibaratkan sebuah kompetisi, maka dunia adalah venue-nya, kehidupan adalah event-nya, dan kesuksesan adalah hadiahnya. Untuk memamahami retorika ini lebih jauh, mari kita gunakan analogi yang lebih mendetail seperti di bawah ini.

Mari kita analogikan perjuangan meraih kesuksesan dalam hidup ini sebagai sebuah pertandingan atau turnamen bela diri seperti di film “Tekken”. Katakanlah dunia ini sebagai seorang tokoh bela diri besar nan tersohor dengan segala kekayaan finansial dan pengaruhnya di negara tempat ia bernaung.  Kita sebut dunia atau sang tokoh yang menyelenggarakan turnamen ini dengan Mr. X. Setiap tahun Ia selalu mengadakan sebuah turnamen bela diri yang memperebutkan gelar juara serta hadiah baik secara materi, penghargaan, dan lain-lain. Turnamen tersebut kita namakan dengan X Martial Arts Competiton. Kebetulan di negara tempat Mr. X berada, pertarungan bela diri adalah sesuatu yang sangat diagungkan. Barangsiapa yang dapat memenangkan sebuah kompetisi bela diri, maka dapat dikatakan ia akan menjadi salah satu orang besar di negeri itu. Selain itu, kompetisi yang diadakan Mr. X adalah kompetisi bela diri terbesar di negeri tersebut. Lalu, kembali kita analogikan bahwa gelar juara dan hadiah dari kompetisi yang ada itu adalah sesuatu yang kita sebut dengan kesuksesan dan event turnamen yang ada adalah kehidupan ini.

Para petarung dari berbagai penjuru negeri datang untuk berkompetisi dengan keahlian bela diri yang tentunya berbeda-beda. Di titik ini mari kita pilah menjadi dua kumpulan besar para petarung itu. Pertama adalah kumpulan petarung yang datang dari antah berantah dengan kemampuan bela diri yang secara mandiri mereka asah melalui berbagai cara. Ada yang berasal dari petarung jalanan, sasana atau perguruan bela diri, bahkan ada yang memang tidak memiliki latar belakang bela diri yang jelas. Kita sebut saja mereka adalah golongan petarung A. Yang kedua adalah golongan petarung B, yaitu golongan petarung yang mereka memang dilatih oleh pihak X Martial Arts untuk mengikuti kompetisi tahunan yang mereka adakan sendiri. Tidak ada jaminan bagi petarung dari golongan B ini dapat memenangkan X Martial Arts Competition tiap tahunnya. Karena kualitas petarung dari golongan A pun tidak bisa diremehkan. Namun, karena petarung golongan B dilatih dan dibina oleh pihak penyelenggara, tentu saja “celah-celah” yang ada di tiap pertandingan sudah mereka pahami. Mulai dari trik untuk memenangkan pertandingan dari sisi teknis seperti mencari kelemahan lawan, menjaga stamina, mengatur ritme pertandingan hingga ke hal-hal non teknis seperti memainkan emosi lawan. Dan tentu saja sebagian besar penonton yang berasal dari kalangan awam akan menilai bahwa petarung-petarung dari golongan B lah yang memiliki kesempatan lebih besar untuk memenangkankompetisi tersebut setiap tahunnya.

Baca juga : “Bahasa, Dunia Virtual, dan Kacamata Milenials”

Kita ambil dua kasus. Ketika sang pemenang berasal dari golongan A yang tidak memiliki kemampuan dan backup yang cukup dari X Martial Arts sebagai pihak penyelenggara kompetisi, publik pastinya akan sangat terpukau dan kagum akan perjuangan petarung golongan A tersebut. Bagaimana tidak? Seorang dengan hasil jerih payah baik secara fisik, materi, pikiran yang ia asah sendiri untuk memenangkan sebuah kompetisi bela diri tersebar itu ternyata dapat menjadi sang juara. Dan kita pasti yakin, jenis petarung dari golongan A yang menjadi juara ini akan memiliki nama yang lebih “harum” dalam sejarah dunia bela diri, walaupun kemungkinan menjadi juara dari golongan ini seringkali dinilai lebih kecil. Kasus kedua adalah ketika pemenangnya berasal dari golongan B yang dilatih oleh X Martial Arts. Publik pasti akan tetap menghargai kemenangan tersebut. Bagaimanapun kemenangan adalah tetap kemenangan, walaupun pastinya banyak publik yang berpikir, “wajar saja dia menang, dia dilatih oleh pihak penyelanggara acara”. Namun, dibalik segala pemikiran tersebut, sebagai seorang awam yang suatu saat ingin juga mengikuti pertandingan bela diri itu dan tentunya menjadi juara, pasti akan lebih memilih untuk menjadi petarung dari golongan B. Mengapa? Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk menjadi juara di kompetisi ini sangatlah sulit. Dan dengan menjadi petarung dari golongan B memungkinkan langkah kita menjadi lebih jelas karena memang dilatih serta dibina oleh pihak penyelenggara acara.

Lalu, apa hubungannya semua analogi di atas dengan kenyataan yang kita hadapi saat ini? Mari perlahan kita bahas. Setiap orang tentunya ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya, hanya jalan yang mereka tempuh mungkin berbeda. Ada yang akan mengambil jalan melalui template yang seolah-olah sudah ada dalam kehidupan ini. Template itu misalnya bahwa semasa sekolah kita harus selalu menjadi yang terpintar di kelas, lulus dengan indeks prestasi tertinggi saat kita lulus dari perguruan tinggi, meniti karir di perusahaan ternama, hingga menjadi seorang petinggi atau pejabat di akhir jenjang karir kita. Semua step itu seolah telah tersedia dalam suatu template yang disediakan oleh dunia ini dan diberikan kepada kita melalui orang-orang yang kita tuakan. Hal tersebut seakan sudah sangat jelas bagi kita untuk meraih kesuksesan. Siapa yang tidak tergiur? Mungkin kita yang saat ini sedang membaca artikel ini pun akan setuju dan mungkin kita adalah salah satu yang sudah mengaplikasikan template tersebut. Ketika kita memilih template ini sebagai jalan kita untuk meraih kesuksesan, berarti kita adalah termasuk petarung dari golongan B dalam X Martial Arts Competition seperti yang telah diceritakan di atas. Sangatlah wajar dan manusiawi mengapa kita memilih jalan ini. Faktor-faktor seperti “lebih jelas”, “lebih aman” dan lain-lain menjadi bumbu-bumbu utama dalam peracikan template kesuksesan itu.

Namun, ternyata kesuksesan bisa diraih dengan jalan-jalan yang tidak tertulis di template kesuksesan seperti yang disebutkan di atas. Mereka bukanlah orang-orang yang terpintar semasa sekolah, bukan juga orang-orang yang memiliki indeks prestasi sempurna saat lulus dari perguruan tinggi sehingga mereka dapat meniti karir di perusahaan ternama. Lalu siapa mereka? Mereka adalah orang-orang “antah berantah” dengan tekad yang kuat dan usaha yang tak kalah  keras untuk meraih kesuksesan dengan jalan yang tidak biasa. Sebut saja seorang entrepreneur muda yang lebih memilih berwirausaha di saat rekan-rekan seumurnya berlomba-lomba mengantri untuk masuk sebagai pegawai di perusahaan ternama. Mungkin mereka adalah para seniman, aktor, dan musisi tersohor yang dulunya adalah orang-orang yang memilih untuk terdepak dari sekolah atau perguruan tinggi dan memilih untuk berusaha mewujudkan mimpi mereka dari passion yang mereka miliki. Ya, merekalah petarung dari golongan A di X Martial Arts Competition. Petarung (yang mungkin) ketika menjadi juara namanya akan “lebih harum” di dunia bela diri. Karena tentunya untuk menjadi juara dari golongan ini sangatlah sulit.

Kesimpulannya, baik petarung dari golongan A ataupun B, sama-sama memiliki peluang menjadi juara di X Martial Arts Competition. Tidak ada golongan yang lebih baik dibandingkan golongan lainnya. Begitu dengan kita di dunia ini. Kita juga dapat meraih kesuksesan dengan template yang seolah-olah sudah disediakan untuk kita ataupun dengan “mengulik dan membangun” jalan-jalan lain yang entah seperti apa wujud dan. Tentunya resiko dari kedua pilihan itu akan tetap ada. Ketika kita saat ini sedang membaca artikel yang berjudul “Dunia Menantang Kita”, di saat yang sama kita akan kembali bertanya kepada diri kita sendiri, “Sudah siapkah kita menjawab tantangan tersebut? Dan petarung dari golongan manakah diri kita ini?”. Let’s beat the world and be the champion!

  • Penulis    : Arri Rama Putra
  • Redaktur : Arri Rama Putra
  • Foto         : Instagram.com/maulanadika


Share this page with :