Bahasa, Dunia Virtual, dan Kacamata Milenials

unspokenjournal.com – Sebagai salah satu alat komunikasi, bahasa menjadi penanda verbal yang paling penting. Bagaimana tidak? Kita bisa mengerti apa yang disampaikan orang lain hanya melalui rangkaian bebunyian yang keluar dari mulut kita. Tapi mengapa kemudian bahasa menjadi sangat penting dewasa ini? Let’s get back to the first. Menurut KBBI Online, bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Lewat definisi ini, kita sudah bisa mengidentifikasi bahwa bahasa menjadi suatu sistem komunikasi yang digunakan oleh suatu komunitas, baik yang memiliki cakupan kecil seperti suku, hingga cakupan luas seperti negara. Sudah jelas, bahwa bahasa dapat menjadi salah satu ciri dari negara itu sendiri. Penggunaan bahasa inipun sangat luas dan mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia digital yang kita kenal karena perkembangan jaman. Mari sedikit kita telisik.

Generasi milenials merupakan generasi dua jaman. Generasi ini adalah satu-satunya generasi yang merasakan perkembangan teknologi paling dahsyat. Mulai dari adanya internet pada era 1990an, hingga telpon genggam di tahun yang sama. Dua gebrakan ini merupakan gebrakan paling berpengaruh di dunia. Bayangkan saja, dengan adanya internet orang-orang di benua Amerika, bisa mengetahui tentang orang-orang yang ada di benua Afrika dengan hanya melihat layar komputer tanpa harus membaca buku ataupun bepergian ke Afrika. Pun dengan telepon genggam. Hadirnya telepon genggam yang nirkabel tanpa harus memasukkan koin, membuat orang-orang berjauhan dapat saling berkomunikasi. Dengan perkembangan teknologi juga, kita sekarang memasuki dunia digital yang serba virtual. Dulu, orang harus datang ke toko untuk membeli pakaian. Kini orang-orang hanya perlu “menenggelamkan diri” dengan telepon genggam mereka dan berselancar di internet sesuka hati. Tak perlu mencari parkir yang seringkali penuh, bahkan tak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Generasi milenials, generasi yang serba instan. Benarkah? Tidak dapat dipungkiri. Lalu bagaimana bahasa dalam perspektif generasi milenials ini?

Baca juga : “Rawabogo : Suara Lembut Tak Terdengar “

Dalam bahasa Indonesia kita mengenal bahasa baku dan tidak baku, pun dengan bahasa inggris yang mengenal istilah Causal English dan Slang English atau biasa kita kenal dengan Slang Word. Bahasa ini sebetulnya telah digunakan sejak tahun 1964, tapi kurang popular karena dianggap nyeleneh.  Sejalan dengan perkembangan jaman, justru Slang Word ini kian merambak bahkan hingga ke dunia digital melalui internet. Para peselancar internetpun lebih familiar dengan istilah Internet Slang Word. Salah satu contohnya adalah Hashtag, DM (Direct Message) dan RT (Re-Tweet). Istilah-istilah ini sangat sering dijumpai di internet yang memiliki banyak user di kalangan generasi milenials. Kemunculan Internet Slang Word ditengarai oleh banyaknya media sosial yang memiliki fitur-fitur ini (seperti DM pada Twitter). Lalu kemudian bahasa tersebut digenerlisasi dan banyak dipakai di berbagai platform sosial media seperti Instagram, Twitter dan FB dengan fitur serupa yakni hashtag. Sama halnya dengan Slang Word pada bahasa suara, kemunculan Internet Slang Word yang dikenal di dunia digital, merupakan sebuah representasi kata yang mudah untuk diucapkan bahkan diingat karena memiliki ciri khas tersendiri. Dengan bahasa ini, para peselancar internet lebih mudah untuk berkomunikasi dengan berbagai tujuan, baik untuk berkomunikasi maupun untuk berbagi foto dan lainnya.

Sebagai generasi milenials yang secara matematis menginjak usia dewasa, apakah sudah menggunakan bahasa yang ia tahu dengan baik di media sosial? Jika kita sangkutkan dengan Internet Slang Word, tentu jawabannya iya. Karena istilah-istilah Internet Slang Word pastinya sudah sangat dikenal oleh milenials. Tapi apa jadinya jika kita sangkutpautkan dengan bahasa pada marwahnya sebagai alat komunikasi di berbagai platform media sosial yang memilik banyak kegunaan? Tentu jawabannya akan jauh dari kata iya. Jika kita googling dengan keyword “fakta mengenai ujaran kebencian di media sosial”, maka kita akan menemukan banyak artikel yang dimuat tahun 2017. Artinya, pada tahun itu banyak sekali kasus ujaran kebencian atau hate speech yang terjadi di berbagai platform media sosial. Setidaknya ada 11 kasus hate speech yang terjadi, mulai dari kasus Ropi Yatsman tentang pemerintahan Jokowi, Ki Gendeng Pamungkas tentang kebencian yang bersifat rasial, hingga Jonru Ginting yang mengajak umat Islam tidak salat Idul Fitri di Masjid Istiqlal jika imamnya adalah Quraish Shihab. Semuanya ditangkap oleh tim Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri yang dibentuk untuk menangkap para pelaku kejahatan verbal di media sosial. Bahkan, pemerintah harus membentuk undang-undang ITE yang memiliki kekhususan untuk kasus kejahatan dunia virtual. Apakah ini menjadi sebuah hal yang hiperbolis?

Jika kita kaitkan dengan perspektif sebagai seorang milenials dalam media sosial, pembatasan akan kebebasan bersuara di media sosial menjadi penting untuk mengurangi kejahatan-kejahatan dunia virtual seperti hate speech hingga pencemaran nama baik. Pagar yang dibentuk pemerintah sebetulnya mempunyai tujuan yang baik, meskipun mengganggu kebebasan sang penggunanya. Jika kita lihat arti dari media sosial itu sendiri adalah media untuk berkomunikasi secara virtual. Namun dewasa ini, justru media sosial memiliki arti yang jauh lebih luas. Banyak orang yang bisa dengan sengaja “pamer” sesuatu di media sosial. Bukankah itu sudah menjadi salah satu perluasan arti dari media sosial itu sendiri? Bahkan, media sosial bisa dijadikan sebagai salah satu alat penyebar kebencian seperti yang dilakukan oleh orang-orang di atas. Apakah ini juga menjadi salah satu fungsi media sosial yang sesungguhnya? Hal ini tentu menjadi fokus yang seharusnya bisa dilihat oleh para generasi milenials. Kebijakan penggunaan bahasa dalam media sosial tentu harus digalakkan oleh para milenials yang notabene lebih paham daripada para generasi baby boomer dan generasi baru yang terkenal labil, yakni generasi Z. Pepatah dari anonym mengatakan, “kebutuhan dasar manusia adalah ingin diperhatikan dan diakui keberadaannya. Sejak dulu itu tidak pernah berubah dan menjadi kodrat yang tidak bisa disangkal lagi”. Itu sebab yang mendasari semua hal ini terjadi, yakni perihal keinginan manusia sebagai makhluk yang ingin diakui. Maka, bijaksanalah.

  • Penulis    : Maulana Muhammad
  • Redaktur : Arri Rama Putra
  • Foto         : Instagram.com/maulanadika


Share this page with :

1 thought on “Bahasa, Dunia Virtual, dan Kacamata Milenials”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *